Senin, 12 Agustus 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN

 


Saya Almubarak Hadi, Calon Guru Penggerak angkatan 10 dari Kabupaten Kotawaringin Timur Provinsi Kalimantan Tengah. Berikut ini adalah kesimpulan yang saya buat pada tahap koneksi antar materi pada modul 3.1. Kesimpulan ini dibuat berdasarkan panduan pertanyaan yang ada di LMS.

 

Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka (Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani) berkaitan erat dengan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin. Sebagai pemimpin, kita harus memberikan teladan dengan mengambil keputusan yang mencerminkan nilai-nilai etika dan bijaksana (Ing Ngarso Sung Tulodo). Di tengah-tengah anggota, kita perlu melibatkan dan memotivasi anggota dengan mendengarkan masukan serta menciptakan lingkungan yang kolaboratif (Ing Madya Mangun Karso). Setelah keputusan diambil, peran kita adalah memberi dorongan dan dukungan kepada anggota untuk melaksanakannya dengan penuh keyakinan (Tut Wuri Handayani). Dengan menerapkan filosofi ini, kita tidak hanya memimpin dengan bijak, tetapi juga membangun lingkungan pendidikan yang membahagiakan dan berpihak pada murid.

 Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita berfungsi sebagai landasan utama dalam pengambilan keputusan. Nilai-nilai ini membentuk pandangan kita tentang apa yang dianggap benar, penting, dan bermakna, sehingga mempengaruhi prinsip-prinsip yang kita pegang. Misalnya, jika seseorang memiliki nilai kejujuran yang kuat, maka dalam pengambilan keputusan, prinsip keterbukaan dan integritas akan menjadi prioritas. Begitu juga, jika nilai-nilai seperti kesetaraan atau empati mendominasi, maka keputusan yang diambil cenderung mempertimbangkan dampak sosial dan kesejahteraan orang lain. Dengan demikian, nilai-nilai ini secara langsung akan membimbing kita dalam memilih prinsip yang dijadikan pedoman dalam pengambilan Keputusan. Selain itu nilai-nilai tersebut akan memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil sudah selaras nilai kebajikan yang sudah tertanam dalam dirinya.

 

Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Materi pengambilan keputusan sangat terkait dengan kegiatan ‘coaching’ dalam proses pengambilan dan evaluasi keputusan. Dalam sesi coaching, pendamping atau fasilitator akan membantu kita mengevaluasi efektivitas keputusan yang telah diambil, membandingkannya dengan tujuan awal, dan mengidentifikasi apa yang berjalan baik serta area yang perlu diperbaiki. Dalam sesi coaching juga mendorong refleksi melalui pertanyaan-pertanyaan berbobot mengenai alasan, dampak, dan alternatif keputusan yang mungkin lebih baik pada langkah opsi trilema. Selain itu, sesi coaching membantu mengidentifikasi dan mengatasi hambatan yang muncul setelah implementasi keputusan, serta bekerja sama untuk menemukan solusi yang efektif. Jika diperlukan, coaching memfasilitasi penyesuaian strategi atau pendekatan untuk meningkatkan efektivitas keputusan di masa depan.

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial-emosional sangat mempengaruhi pengambilan keputusan, terutama dalam dilema etika. Guru dengan kompetensi sosial emosional yang baik dapat mengelola emosinya dan memahami perspektif orang lain, sehingga membuat keputusan yang lebih rasional, adil dan bijaksana. Kesadaran sosial dalam bentuk rasa empati membantu guru dalam menilai dampak keputusan terhadap semua pihak, sementara keterampilan berelasi yang baik memudahkan untuk berdiskusi dengan semua pihak yang terlibat untuk memberikan penjelasan keputusan dan mengurangi konflik. Dengan demikian, kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, ketrampilan berelasi serta kemampuan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab akan menghasilkan keputusan yang tepat dan berdampak positif.

 

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika sering kali kembali kepada nilai-nilai yang dianut oleh pendidik karena nilai-nilai ini membentuk dasar untuk penilaian dan pengambilan keputusan. Nilai yang dianut dan diyakini seperti kejujuran, keadilan, dan empati mempengaruhi cara pendidik mengevaluasi situasi dan memilih solusi. Misalnya, nilai keadilan akan mendorong solusi yang adil, sedangkan nilai empati akan fokus pada dampak emosional keputusan. Dengan demikian, nilai-nilai yang dianut pendidik menjadi panduan penting dalam menilai dan memutuskan kasus yang berkaitan dengan masalah moral atau etika.

 

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat sangat berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Keputusan yang bijaksana memastikan bahwa kebijakan dan tindakan yang diambil mendukung kesejahteraan semua pihak dan memenuhi kebutuhan serta harapan mereka. Misalnya, keputusan yang adil dan transparan menciptakan rasa kepercayaan dan keamanan di antara pihak yang terlibat. Keputusan yang mempertimbangkan aspek keselamatan dan kesehatan mendukung lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua pihak. Selain itu, keputusan yang mewujudkan kolaborasi dan komunikasi efektif membantu menciptakan suasana kerja atau belajar yang positif dan kondusif. Dengan demikian, keputusan yang tepat berkontribusi pada pembentukan lingkungan yang positif, kondusif dan aman.

 

Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan pertama adalah pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika di lingkungan saya sering kali melibatkan perbedaan nilai dan sudut pandang yang berbeda, hal tersebut dapat menyulitkan pencapaian kesepakatan dan memerlukan keterampilan komunikasi dan negosiasi. Tantangan kedua adalah tekanan dari berbagai pihak, seperti orang tua atau kolega, serta konflik kepentingan, juga dapat mempersulit pengambilan keputusan yang adil.

Tantangan pertama ada kaitan dengan perubahan paradigma, karena perubahan ini mempengaruhi standar dalam pengambilan keputusan, seperti perubahan sistem kenaikan kelas dari paradigma Kurikulum 2013 dengan kurikulum Merdeka berbeda sehingga akan menimbulkan perspektif yang berbeda juga yang susah disatukan.

 

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

 

Pengambilan keputusan dalam pengajaran berpengaruh besar pada upaya memerdekakan murid, karena menentukan seberapa besar kebebasan dan dukungan yang mereka terima untuk mengembangkan potensi mereka yang berbeda-beda. Memilih metode pembelajaran yang interaktif dan adaptif sesuai kebutuhan murid memungkinkan murid lebih terlibat dan mengembangkan keterampilan kritis. Selain itu, fleksibilitas dalam kurikulum dan evaluasi yang beragam membantu menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan dan kemampuan individu murid, memberikan mereka kendali lebih besar atas proses belajarnya sesuai minat dan gaya belajar mereka. Berdasarkan hal-hal tadi maka keputusan yang tepat untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung kemandirian dan pertumbuhan setiap murid adalah pembelajaran berdifferensiasi yang akan mengakomodir sesuai kebutuhan dan kondisi murid.

 

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Seorang pemimpin pembelajaran, seperti kepala sekolah atau guru, memiliki pengaruh besar terhadap masa depan murid melalui keputusan yang diambilnya. Pemilihan kurikulum, metode pengajaran, dan budaya sekolah membentuk pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai karakter yang akan dibawa murid dalam hidup mereka. Strategi pembelajaran yang interaktif, budaya yang inklusif, serta dukungan khusus bagi murid dengan kebutuhan tertentu dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan karakter murid. Selain itu, Keputusan yang tepat untuk mendukung pengembangan profesional guru dan menyediakan ruang bagi murid untuk mengeksplorasi minat mereka, baik melalui pembelajaran di kelas atau kegiatan ekstrakurikuler, memastikan bahwa setiap murid mendapatkan pendidikan yang relevan dan bermakna, hal ini akan mempersiapkan murid untuk menuju masa depan yang sukses.

 

Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir yang saya dapatkan dari pembelajaran materi ini dan keterkaitannya dengan modul sebelumnya bahwa pengambilan keputusan merupakan kompetensi yang harus dimiliki oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran. Keputusan pemimpin pembelajaran harus berdasarkan pada filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu menuntun murid sesuai kodratnya dan berpihak kepada murid karena setiap keputusan yang diambil nantinya akan menentukan kompetensi dan karakter murid di masa depan. Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab dengan mengutamakan nilai-nilai kebajikan yang telah menjadi kesepakatan kelas sehingga bisa menciptakan budaya positif di dalam kelas. Pembelajaran sosial emosional dan pembelajaran berdiferensiasi merupakan salah satu bentuk pengambilan keputusan seorang pemimpin pembelajaran atau guru terhadap penentuan strategi pembelajaran dalam memenuhi keberagaman kebutuhan dan karakter murid-muridnya. Selanjutnya pada tahap perencanaan dalam mengambil keputusan, seorang pemimpin pembelajaran dapat menggunakan alur BAGJA untuk mewujudkan visinya di kelas dan di sekolah sehingga dapat mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid dan berkarakter sesuai profil pelajar Pancasila.

 

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Setelah mengikuti proses pembelajaran dalam modul 3.1, saya merasa cukup memahami konsep-konsep yang dipelajari pada modul ini, seperti dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Materi pada modul ini menjadi bekal bagi saya dalam membuat keptusan yang tepat dan bijaksana ke depan. Hal yang diluar dugaan saya adalah bahwa sebagai pemimpin pembelajaran kita tidak semata-mata mengambil keputusan hanya berdasarkan aturan dan rasa keadilan saja, namun diatas semua itu bahwa keputusan yang dibuat haruslah melihat sudut pandang yang lain yang juga benar yaitu bagaimana Keputusan akhir harus bisa lebih berpihak kepada murid.

 

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Pernah, saya menerapkan pengambilan keputusan dengan menggunakan salah satu dari 3 prinsip penyelesaian dilema yaitu Berpikir berbasis rasa peduli. Langkah-langkah dalam mengambil dan menguji keputusan hanya sebagian digunakan tidak runut dan lengkap seperti 9 langkah yang dipelajari pada modul ini. Beberapa langkah yang saya lakukan dari 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, adalah mengenali nila-nilai yang saling bertentangan, menentukan siapa saja yang terlibat, menggali fakta yang relevan di lapangan, untuk selanjutnya pengujian benar salah pun dilakukan dengan melihat apakah ada aspek pelanggaran hukum dan peraturan dan bagaimana perasaan kita melalui uji intuisi. Perbedaan dengan apa yang saya pelajari pada modul ini adalah tidak semua prosedur 9 langkah pengambilan Keputusan dilaksanakan semua, begitu juga dalam pengujian benar salah belum semua dilakukan.

 

Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak yang paling signifikan bagi saya setelah mempelajari konsep ini adalah saya dapat memahami perbedaan dilema etika dan bujukan moral. Pemahaman ini nantinya tentu saja akan meningkatkan keterampilan saya dalam membuat berbagai keputusan yang tepat dan bijaksana. Seorang pemimpin yang tidak mampu membedakan 2 hal ini maka dikhawatirkan keputusan yang dibuat menjadi tidak tepat bahkan berdampak negatif. Oleh sebab itu saya sebagai seorang pemimpin harus mampu mengidentifikasi antara dilema etika dengan bujukan moral. Sebelumnya saya mengambil keputusan hanya menggunakan landasan peraturan sebagai pedoman benar dan salah, setelah mempelajari modul ini saya bisa memiliki perspektif lain dalam memutuskan suatu kasus agar keputusannya lebih tepat dan bijaksana. Untuk kasus bujukan moral saya lebih mudah untuk memutuskannya karena hanya paradigma benar dan salah, namun untuk kasus dilema etika saya harus memutuskannya dengan menerapkan 9 langkah dalam mengambil dan menguji keputusannya karena menyangkut paradigma benar lawan benar sehingga tidak salah mengambil keputusan.

 

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Topik modul ini sangat penting  bagi saya karena modul ini memberikan pemahaman yang utuh bagi saya dalam mengambil keputusan, baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin. Melalui modul ini saya memahami cara membuat keputusan yang tepat dan bijaksana dengan menerapkan 9 langkah dalam mengambil dan menguji sebuah keputusan. Dengan menggunakan langkah-langkah tersebut maka keputusan yang saya ambil menjadi lebih baik dan berdampak positif dibandingkan keputusan yang saya ambil sebelum mempelajari modul ini.